|
Jalur
alternatif menuju ke "Pakar"
Oleh
: Onno W. Purbo
Kadang
saya suka geli & senyum-senyum sendiri melihat
rekan-rekan jurnalis ada yang menjuluki saya Pakar
Internet, Professor Internet (sekarang tanpa perguruan
tinggi), bahkan Menteri Internet (tanpa Keppress
Gusdur). Padahal modal saya betul-betul modal
dengkul, saya tidak pernah belajar formal tentang
teknologi informasi, tidak pernah belajar formal
tentang Internet, saya jelas lebih bodoh daripada
adik-adik mahasiswa di ITB lha wong sering nanya
ke mereka koq saya ini. Terus terangnya, saya
praktis tidak punya apa-apa secara formal.
Saya
pikir, mungkin karena gelar saya yang S3 dari
Canada itu? Padahal jelas-jelas gelar tersebut
bidangnya adalah teknologi pembuatan IC, S2 saya
di fiber optik - tidak ada hubungannya sama sekali
dengan Internet. Terus terang Internet saya pelajari
sendiri & berguru secara informal. Jadi secara
formal harusnya saya tidak berhak atas semua gelar,
julukan yang diberikan rekan jurnalis di atas
:)
Mungkin
pendidikan informal yang akhirnya lebih banyak
membentuk saya seperti sekarang ini. Saya rasa
proses bersosialisasi, berteman, belajar dari
teman, kemampuan untuk mengolah / mengembangkan
pengetahuan merupakan kunci sukses selama ini.
Di tulisan ini saya mencoba mengupas beberapa
hal praktis yang saya lalui hingga mencapai kondisi
sekarang ini, yang saya yakin masih jauh dari
kondisi sempurna. Paling tidak jalur tersebut
saya harap bisa memberikan wawasan bagi rekan-rekan
untuk mulai menjalankan karir-nya di hal-hal yang
mungkin tidak terpikirkan sebelumnya. Sebuah karir
dimana reward, acknowledgement, dan akreditasi
diberikan langsung oleh masyarakat - tidak harus
tergantung 100% kepada ijazah, ujian negara dan
sebangsanya.
Tampaknya
sebagian besar jalan hidup saya berawal dari hobby
amatir radio, nge-brik begitu barangkali bahasa
gaul-nya. Dengan modal awal tidak punya apa-apa;
hanya keinginan untuk nge-brik dengan CB seperti
teman-teman SMP yang lain - saya akhirnya membeli
buku "teknik membuat pemancar transistor". Kebetulan
sekali di buku itu di tulis bahwa teman-teman
yang suka membuat pemancar sendiri suka mangkal
di frekuensi 3.5 MHz (80 meter) band. Jaman itu
tahun 1978-an waktu itu mungkin masih jaman susah
jadi memaksa orang untuk kreatif untuk membuat
sendiri pemancar-pemancarnya.Diskusi antar pembuat
pemancar ini dilakukan cukup aktif di 80 meter-band.
Hampir setiap hari selama 2+ tahun monitoring
80 meter band dan obrolan rekan-rekan ini, radio
merupakan barang yang hampir tidak pernah lepas
dari sisi saya. Dari pembicaraan mereka saya tahu
kita bisa membuat pemancar sederhana menggunakan
tabung 6V6, 6L6, 807 dll. Di kemudian hari ternyata
pola belajar informal yang paling baik adalah
secara serius mendengarkan, membaca diskusi yang
dilakukan oleh rekan-rekan se-hobby. Belajar dan
mengerjakan apa-apa yang kita sukai memang paling
menyenangkan.
Akhirnya
pada tahun 1979 saya bisa membuat pemancar sendiri
dari tabung bekas & buku amatir radio yang saya
peroleh dari teman sekelas saya Krishna Ariadi
Pribadi. Dengan bermodal buku & tabung bekas saya
mengudara di 80 meter band dengan peralatan yang
dibuat sendiri, sangat sederhana memang. Di sini
saya sangat beruntung dapat berinteraksi dengan
banyak rekan-rekan amatir radio yang senior dan
belajar teknik-teknik elektronika kepada pada
senior tersebut secara lebih interaktif. Memang
harus di akui bahwa pasif mendengar saja tidak
cukup, harus dibarengi dengan kemauan keras untuk
membaca buku-buku dan aktif berinteraksi dengan
orang yang lebih ahli di bidangnya. Tanpa terasa
pembentukan karakter, pola pengembangan diri terpatri
sejak dini di dunia amatir radio.
Sekitar
tahun 1981-an saya mengenal komputer dari Bachti
Alisyahbana (putra dari Prof. Iskandar Alisyahbana),
sering saya ke rumahnya untuk ngoprek dan mengobok-obok
komputer Radio Shack-nya karena memang saya tidak
punya komputer. Saya mencoba programming BASIC
di komputer beliau. Saya suka sekali dengan komputer
ini, belum pernah terbayangkan ada alat hitung
seperti komputer yang bisa di program dan di mainkan
sedemikian menarik. Tampaknya jika ada kemauan
yang kuat biasanya ada saja jalan untuk memperoleh
pengetahuan-pengetahuan tersebut.
|