Cybercity
Silicon Valley vs Cybermaya
Oleh
: Onno W. Purbo
Cyber cyber
cyber e-life e-bisnis e-commerce serba elektronik
demikian tampaknya semakin hot di era millenium
mendatang. Hanya saja paradigma cyber yang biasanya
tidak dibatasi dimensi ruang, dimensi waktu koq
menjadi terbatas kalau di bawa ke Indonesia. Menjadi
cybercity yang dibatasi wilayah di kemayoran,
menjadi Bandung High Tech Valley dibatasi di Bandung.
Terus terang saya koq kurang percaya dengan paradigma
infrastruktur demikian. Bangunan, jalan, kabel
fiber optik, kabel telepon, pabrik, kertas memang
sarana fisik infrastruktur yang dibatasi ruang
dan waktu. Cyber harus tidak di batasi dimensi
ruang dan waktu.
Saya pikir
ruang cyber di bangun oleh data, informasi, pengetahuan
dan kebijakan (wisdom) yang dapat berjalan di
atas infrastruktur fisik. Pemikiran tidak harus
berjalan di dalam bangunan, pabrik, tidak harus
berjalan di atas fiber optik maupun cybercity.
Diskusi interaksi dua arah merupakan resep utama
pembentukan ruang cyber berbasis pengetahuan,
paradigma sumber informasi yang represif dimasa
orde baru tidak mungkin lagi dipegang di dunia
cyber. Jelas jika melihat proses interaksi mendasarnya
- diskusi interaksi antar manusia, masyarakat
dan komunitas menjadi bagian penting dalam pembangunan
pengetahuan implisit yang ada di dalam kepala
pelakunya. Pengetahuan implisit dapat berupa pengalaman,
attitude, gaya hidup yang tidak tertulis. Tentunya
ada pengetahuan lain yang sifatnya eksplisit tertulis
dalam buku, dokumen yang lebih mudah di olah secara
elektronik melalui Web, di samping pengetahuan
yang potensial dari data-data yang berserakan
yang perlu kemampuan analisis yang jeli untuk
mengolahnya.
Diskusi
interaksi dua arah merupakan komponen terpenting
yang saya amati dalam pembangunan kerangka pikiran
cyber, komunitas elektronik, diskusi mailing list
merupakan fondasi utama bagi masyarakat komunitas
cyber. Tidak terlalu sukar untuk membangun infrastruktur
diskusi interaktif dua arah tersebut di dunia
cyber yang paling murah dan sederhana menggunakan
mailing list seperti egroups.com yang praktis
gratis sehingga diskusi dapat dilangsungkan secara
asinkron tanpa harus online terus menerus seperti
chatting.
Yang paling
penting diperhatikan adalah faktor kualitas manusianya,
dunia informasi, pengetahuan dan kebijakan hanya
mungkin dibentuk oleh komunitas manusia terdidik
& terpelajar. Ingredient komunitas terdidik
dan terpelajar yang haus akan hal yang baru dapat
diperoleh dengan mudah di komunitas kampus-kampus
di Indonesia. Saya pikir fasilitasi diskusi interaktif
dua arah antar komunitas kampus, orang terdidik,
terpelajar di Indonesia menjadi dasar utama bagi
terbentuknya masyarakat cyber sesungguhnya bukan
cybersemu yang dibatasi dimensi ruang dan waktu.
Tentunya platform diskusi yang digunakan harus
membuka dimensi ruang dan waktu itu sendiri, tidak
mungkin kita membuat masyarakat pengetahuan jika
dibatasi oleh ruang kelas, ruang seminar. Platform
komunikasi dan media elektronik merupakan infrastruktur
utama untuk interaksi utama di era cyber. Sebagian
platform tersebut dapat dibangun secara murah
dan swadana seperti konsep warnet. Jadi saya pikir
jaringan pengetahuan dunia pendidikan menjadi
kunci strategis utama bukan cybercity maupun inisiatif
lain yang terbatas dimensi ruang dan waktu.
Tantangan
besar lain adalah 80% tenaga kerja di Indonesia
berpendidikan max. SD, sebuah seni tersendiri
untuk mentransformasikan komunitas ini agar dapat
berpartisipasi dengan baik. Mekanisme penyuaraan
hati mereka harus dapat dilakukan tanpa proses
perwakilan, media komunitas, koran komunitas dan
radio komunitas barangkali merupakan solusi awal
yang memungkinkan masyarakat lapisan bawah ini
mengekspersikan pendapat dan isi hatinya tanpa
dibatasi dimensi ruang dan waktu.
|